the survivorship bias
bahaya hanya belajar dari orang sukses yang sebenarnya hanya beruntung
Pernahkah kita membeli buku tentang rahasia sukses seorang miliarder, lalu mencoba meniru semua rutinitasnya? Kita memaksakan diri bangun jam 4 pagi, mandi air dingin, bermeditasi, dan bekerja tanpa lelah. Tapi setelah berbulan-bulan, alih-alih menjadi CEO sukses, kita malah cuma mendapat mata panda dan kelelahan mental. Kita pun mulai merasa ada yang salah dengan diri kita. Padahal, percayalah, masalahnya bukan pada diri teman-teman. Kita sebagai manusia memang terprogram secara evolusioner untuk mencari pola agar bisa bertahan hidup. Kita sangat menyukai cerita sukses. Tapi, bagaimana kalau pola kesuksesan yang kita pelajari mati-matian selama ini sebenarnya cacat sejak awal? Mari kita bedah sebuah fenomena yang mungkin akan mengubah cara kita memandang "kesuksesan" untuk selamanya.
Untuk memahami akar masalahnya, saya ingin mengajak teman-teman mundur sejenak ke masa Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1943, militer Amerika Serikat sedang menghadapi satu krisis yang membuat frustrasi. Banyak sekali pesawat pengebom mereka yang hancur ditembak musuh dan tidak pernah kembali ke pangkalan. Militer tahu betul bahwa mereka harus menambah lapis baja pada pesawat-pesawat tersebut. Masalahnya tidak sesederhana itu. Baja itu material yang sangat berat. Kalau seluruh badan pesawat dilapisi baja pelindung, pesawatnya malah tidak akan bisa terbang. Jadi, mereka dihadapkan pada satu pilihan sulit: mereka harus memilih bagian mana yang paling krusial untuk dilindungi. Para insinyur dan petinggi militer pun berkumpul di satu ruangan. Mereka mulai mengumpulkan dan mengamati data dari semua pesawat yang berhasil pulang dengan selamat setelah bertempur di udara.
Data yang terkumpul di atas meja menunjukkan pola yang sangat konsisten dan jelas. Pesawat-pesawat yang selamat ini membawa pulang banyak sekali lubang bekas tembakan peluru di bagian sayap, bagian tengah badan pesawat, dan ekor. Sebaliknya, area kokpit pilot dan bagian mesin nyaris bersih, tidak ada goresan peluru sama sekali. Melihat pola tersebut, para petinggi militer merasa menemukan jawaban yang kelewat jenius. Kesimpulannya tampak sangat logis, bukan? Tinggal pasang saja baja pelindung tambahan di tempat yang paling banyak terkena tembakan musuh, yakni di sayap dan ekor pesawat. Mereka sudah siap mengetok palu untuk mengeksekusi rencana ini. Tapi tiba-tiba, seorang ahli matematika bernama Abraham Wald yang ikut dalam rapat itu menginterupsi. Wald melihat selembaran data yang sama persis, tapi ia menyadari ada satu lubang logika yang sangat fatal dari rencana para jenderal tersebut. Sebuah kesalahan cara berpikir yang, jika dibiarkan, justru akan membunuh lebih banyak pilot di medan perang.
Wald dengan tenang mengatakan bahwa militer harus melakukan hal yang sebaliknya. Ia menyarankan agar baja pelindung dipasang di bagian kokpit dan mesin, tempat yang justru tidak ada lubang pelurunya. Kenapa begitu? Karena pesawat-pesawat yang berlubang di sayap dan ekor adalah pesawat yang berhasil pulang. Bukti itu menunjukkan bahwa pesawat masih bisa terbang meski sayap dan ekornya hancur ditembaki. Lalu, ke mana pesawat yang tertembak di bagian mesin dan kokpit? Mereka hancur berkeping-keping jatuh ke bumi dan tidak pernah bisa dianalisis datanya. Inilah yang di dunia sains dan psikologi dikenal dengan istilah survivorship bias atau bias kebertahanan. Kita terlalu fokus pada "mereka yang selamat" dan mengabaikan "mereka yang hancur", hanya karena data kegagalan tidak terlihat oleh mata kita. Sekarang, mari kita bawa konsep ini ke realitas kehidupan kita. Orang-orang super sukses, selebritas, atau pengusaha tajir melintir, mereka adalah "pesawat yang berhasil pulang". Kita meniru cara mereka drop out dari kampus, rutinitas pagi mereka, hingga keberanian mereka mengambil risiko ekstrem. Tapi kita lupa, ada jutaan orang lain yang juga bangun jam 4 pagi, drop out dari kampus yang sama, bekerja persis sama kerasnya, namun gagal total secara finansial. Kita tidak pernah tahu cerita mereka karena orang bangkrut jarang diundang ke podcast atau menulis buku motivasi. Akibatnya, kita menjadi buta pada satu variabel yang sangat besar namun paling malas diakui oleh orang sukses: keberuntungan murni.
Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa kerja keras, kedisiplinan, dan kecerdasan itu tidak penting. Itu semua adalah modal dasar. Tapi sains selalu mengajarkan kita untuk berpikir kritis dan melihat kumpulan data secara utuh. Ketika kita hanya belajar dari segelintir orang yang berhasil berada di puncak, kita sebenarnya sedang belajar dari sebuah anomali atau pengecualian, bukan belajar dari aturan yang sebenarnya. Jadi, untuk teman-teman yang mungkin hari ini sedang merasa lelah, merasa tertinggal, atau insecure melihat pencapaian orang lain di media sosial, tarik napas dalam-dalam. Berhentilah menghakimi diri sendiri terlalu keras. Sangat mungkin kita sudah melakukan hal-hal yang benar, hanya saja kebetulan "pesawat" kita sedang terbang di cuaca yang berbeda. Ke depannya, mari kita sedikit ubah cara kita belajar dari dunia. Daripada sekadar bertanya "apa kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang sukses?", cobalah mulai bertanya "apa kesalahan yang membuat banyak orang gagal, dan bagaimana saya bisa menghindarinya?". Kegagalan sering kali menyimpan data yang jauh lebih akurat dan jujur daripada kesuksesan yang sudah terpoles oleh manipulasi nasib baik. Mari kita bangun mentalitas yang lebih membumi, lebih rasional, dan yang terpenting, lebih berempati pada proses dan perjuangan kita sendiri.